Ketika popularitas menjadi penentu keputusan

KPK membubarkan Terminal TKI? Pikirkan lagi

Sedikit info buat yang awam, di bandara Soekarno Hatta, ada terminal khusus untuk TKI yang pulang ke tanah air lebih dikenal sebagai Terminal 4. Terutama TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga hingga tahun 2012, diwajibkan melalui terminal satu ini. Pengelolanya adalah BNP2TKI. Badan yang dibentuk berdasarkan UU 29 2004 yang disahkan pada masa kepresidenan Megawati Soekarnopoetri. BNP2TKI adalah lembaga pemerintah lintas sektoral. Tak cuma staf dari Kemenakertrans, di situ juga ada dari Kepolisian, Kemenkes dan instansi pemerintah lainnya yang terkait.

Mengapa terminal khusus ini diadakan? Selain demi mendata jumlah TKI yang pulang, juga karena ditemukan banyak pemerasan, perampokan yang terjadi pada TKI kita (sebagian besar yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan perempuan). Mereka ini adalah mayoritas TKI kita.

Saya sendiri agak heran dengan judul berita di salah satu media online hari ini “Migrant Care Lega Terminal TKI Dihapus”. Dalam judul berita itu seolah KPK adalah yang berwenang membubarkan Terminal 4 TKI. Dan bila itu terjadi, betapa KPK betapa luasnya kewenangan KPK meski kebijakan itu seperti menjilat ludah berkali-kali, sebab tak sekali KPK memberi penghargaan terhadap kinerja BNP2TKI. Mau bukti? Silakan lacak di Google.

Penghargaan itu bahkan diberikan saat BNP2TKI total memberlakukan TKI pembantu rumah tangga wajib pulang lewat Terminal 4 TKI!

Lalu apa positifnya pembubaran itu? Yang penulis tahu hanya 1: semua TKI PLRT bebas pulang seperti penumpang biasa.

Negatifnya?

Tak semua TKI kita cukup punya pengalaman untuk melakukan perjalanan dari bandara Soetta ke terminal bis atau membedakan mana calo mana penjual tiket yang menjadi agen resmi.

Juga tak semua TKI kita pulang dalam keadaan punya uang, segar bugar.

Dan masih banyak pula TKI kita yang sudah bertahun-tahun di luar sana tapi tak bisa membaca

Selain itu, bila tak ada aparat pemerintah di bandara yang menangani khusus TKI yang tertimpa masalah setiba di bandara Soekarno Hatta misalnya, mereka akan jadi sasaran empuk LSM.

Tak semua LSM TKI itu baik. Sebagian besar, 90% malah preman. Mereka yang mencari makan di situ bukan benar-benar untuk membantu TKI bermasalah namun mencari makan dan kejayaan mereka sendiri.

Yang tak setuju dengan opini saya silakan berhubungan dengan LSM TKI.

Bila bertemu dengan TKI bermasalah inilah yang akan mereka lakukan:

1. Melihat dan menelusuri dokumen TKI kalau-kalau ada yang bisa dicari cela, salah PJTKI/PPTKIS yang memberangkatkan.

2. Bila ditemukan, mereka akan datangi PJTKI/PPTKIS memberangkatkan TKI bermasalah tersebut dan langsung negosiasi dengan mereka berapa duit yang bisa dibayar PJTKI/PPTKIS agar mereka menutup mulut dan tak melaporkannya ke BNP2TKI ataupun polisi. Dan hampir pasti kasus semacam ini hanya segelintir yang sampai ke pemerintah kita (baca BNP2TKI & polisi) sebab PJTKI/PPTKIS lebih memilih memberi uang ke oknum LSM.

3. Percayalah, kalau LSM itu mendapatkan uang dari PJTKI/PPTKIS, hanya setetes yang jatuh ke tangan TKI yang tertimpa musibah. Sebagai info, bila tak mendapatkan TKI bermasalah tak sedikit oknum LSM TKI yang juga menjadi calo TKI! Dan begitulah selalu siklus permasalahan dan muaranya bila LSM TKI mengurus TKI yang tertimpa musibah.

4. TKI yang gagal alias pulang tak membawa uang akan berpotensi menjadi “bahan daur ulang” oleh mafia entah itu dari PJTKI/PPTKIS atau bahkan LSM TKI. Daur ulang saya maksud adalah begini; beberapa tahun lalu sebelum ada Terminal TKI, saya kerap mendapati TKI yang tak mau pulang ke kampung kalau mereka pulang ke Indonesia tak membawa uang. Mereka lebih memilih langsung untuk menjadi TKI lagi. Dan ini dimanfaatkan oleh para mafia. Di kalangan dunia TKI baik dari kalangan pemerintah maupun swasta (baca: PJTKI & LSM) pasti mengenal seroang Cina keturunan yang berinisial JC yang kaya raya berkat daur ulang semacam ini. Orang satu ini punya rekor memalsukan berbagai dokumen dan menempatkan TKI bahkan ke wilayah perang di Timur Tengah.

Apakah hal semacam ini ingin diulang oleh KPK?

Bagaimana Terminal TKI selama berada di tangan BNP2TKI?

Tak sepenuhnya positif tentu saja. Kerap terdengar kasus pemerasan di sana.

Namun tak terdengar TKI yang dibuang di tol Jagorawi, atau dirampok lalu ditelantarkan di hutan atau setelah sesampai di Indonesia malah tak pulang ke rumah lalu tak terdengar kabarnya lagi entah kemana larinya. Sesekali bahkan terdengar kabar TKI yang pulang lalu dibunuh setelah dirampok. Di bawah ini segelintir yang terliput media online:

http://www.jpnn.com/read/2014/08/25/253684/TKI-Ditemukan-Tewas-di-Jalan-Tol-

http://surabaya.okezone.com/read/2012/12/30/521/739187/tki-dibius-dibuang-di-hutan

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/06/23/0920352/Pulang.dari.Taiwan.TKW.Dirampok.dan.Dibuang.di.Tol

Bahkan WNI biasa yang dikira TKI saja pernah dirampok: http://www.merdeka.com/jakarta/dikira-tki-yuni-dirampok-dan-dibuang-di-pinggir-jalan.html

Kesimpulannya? Terminal Bandara Soekarno Hatta tidak aman untuk TKI yang berhasil sekalipun. Tingkat keamanannya tak lebih baik dari Terminal Bis Pulo Gadung. TKI menjadi incaran penjahat di sana.

Mereka yang sudah membawa hasil dari luar negeri jangan dibikin gagal setelah sampai di gerbang negeri kita. Tetap siapkan transportasi buat mereka pilih. Untuk menghindari pemerasan, berikan urusan antar mengantar ini serahkan saja ke perusahaan transportasi yang sudah mapan dan baik pelayanannya,a da Cipaganti, Bluebird, Damri, Pahala Kencana, Lorena dst. Jangan seperti sekarang ini diberikan kepada perusahaan yang tak jelas.

Pemerasan tetap merugikan.

Namun perampokan, pembunugan jauh lebih merugikan. Dan dua yang terakhir tak pernah terjadi pada TKI yang pulang lewat Terminal TKI.

Jadi pikirkan lagi sebelum membubarkan Terminal TKI. Jangan mengambil kebijakan hanya karena populer di media dan LSM.

Untuk media online maupun cetak, jangan hanya LSM yang menjadi nara sumber anda. Seperti juga kami, tak sepenuhnya pendapat mereka benar.
Humari

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ketika popularitas menjadi penentu keputusan

  1. agung berkata:

    Salam Pak Humari,

    Apa tanggapan PJTKI yg dikabarkan terlibat dalam kasus terminal 3 dgn BNP2TKI?

    Apakah kartu KTKLN utk TKI baru akan tetap dipersulit pasca departure spt keiasaan lama supaya calon TKI akan membayar mahal untuk tidak ketinggalan pesawat?

    Unfortunately tim anda tidak membawa saya ke terminal 3 waktu saya vacation 9 bulan yll, padahal hidden cam sudah saya siapkan….

    Peace

    • Humari berkata:

      Anda salah alamat kalau mengira saya staf BNP2TKI. Saya adalah PJTKI. Kamera Anda nyalakan juga buat TKI yang berhasil.

      Jangan lupa juga kalau ada yang jadi jenazah karena dirampok setelah turun di bandara Soetta, Anda shoot juga. Biar adil.

      Peace juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s