Mengapa mereka memilih Arab Saudi & ‘janji manis’ PJTKI

23 Juni 2011 lalu http://www.sinarharapan.co.id memposting tulisan yang berjudul Mencari Berkah di Negeri Para Nabi. Posting saya menanggapi tulisan itu.

Memang benar itu menjadi salah satu alasan mengapa para TKW informal memilih bekerja di Arab Saudi. Tapi itu bukan alasan utama. Bahkan pada banyak kasus, kami tidak menemukan hal tersebut sebagai salah satu dari deretan alasan mereka.

Pendapat saya tentu sama subyektifnya dengan wartawan harian Sinar Harapan yang menulis laporan tersebut. Bedanya wartawan itu hanya bertanya dengan beberapa sumber, sementara saya sudah bergaul (bukan sekedar bertanya) dengan ribuan TKW dan calon TKW informal.

Inilah hal-hal yang membuat mereka memilih Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya:

1. Fee yang tinggi. Melebihi penempatan negara-negara Arab lainnya seperti Oman, Qatar dan Uni Emirates Arab. Perbedaannya bisa kisaran ratusan hingga jutaan rupiah. Negara-negara penempatan di Asia Tenggara dan Asia Timur (Hongkong dan Taiwan) juga memberikan fee tapi tak setinggi negara-negara Arab.

2. Syarat yang relatif ringan: majikan Oman, Qatar dan UEA lebih memilih TKW yang sudah berpengalaman. Juga demikian halnya untuk penempatan di Taiwan, Hongkong kecuali Malaysia dan Singapura. Selain kualifikasi yang lebih tinggi menjadi syarat untuk calon TKW yang hendak bekerja di Singapura, Hongkong atau Taiwan. Rata-rata, negara-negara itu menerima calon TKW tamatan SMA. Bandingkan dengan Arab Saudi (Malaysia juga) yang mau menerima calon TKW tak tamat SD!

3. Proses pelatihan TKW untuk penempatan negara-negara Arab relatif ringan. Bahkan khusus penempatan Qatar, Oman dan UEA usai pelatihan dan bila belum mendapatkan visa, calon TKW bisa menunggu di rumah. Untuk penempatan Hongkong, Taiwan dan Singapura tak ada istilah pulang dan menunggu di rumah. Karenanya kejadian calon TKW hamil padahal tinggal proses akhir (penerbangan) kerap terjadi pada mereka yang hendak terbang ke negara-negara Arab. Apalagi untuk penempatan negara-negara Arab tidak membolehkan KB.

4. Khusus penempatan di Arab Saudi proses pemberangkatan lebih cepat. Visa Arab Saudi sudah tersedia. Begitu pelatihan usai dan paspor selesai diurus, pemberangkatan hanya tinggal menunggu tiket pesawat. Penempatan di luar Arab Saudi kerap kali membuat TKW harus menunggu berlama-lama karena visa yang belum tersedia.

5. Penempatan tanpa potongan gaji juga menjadi pertimbangan. Tak seperti penempatan di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Taiwan yang jumlah potongannya lumayan besar.

Alasan agama seperti agar mendapat berkah karena bekerja di negeri kelahiran Nabi ingin umroh dan haji hanya diberikan segelintir TKW.

Mau bukti?

Beberapa saat sebelum perkara yang menimpa Sumiati (November 2010) disorot media, pihak Sanarcom (asosiasi agen pekerja Arab Saudi) menekan kami PJTKI untuk mengurangi biaya penempatan. Sanarcom menuduh PJTKI menaikkan biaya perekrutan seenak perut. Keterangan kami bahwa itu adalah tuntutan dari sponsor dan TKW tidak digubris. Secara sepihak Sanarcom mematok biaya penempatan paling tinggi sebesar USD 1200 per TKI. Pematokan itu otomatis membuat fee untuk sponsor dan TKW menurun. Bagi PJTKI yang melanggar dan ketahuan oleh Kedubes Arab Saudi, proses online visa TKI yang dilakukan PJTKI langsung ditutup.

Kami biarkan pematokan itu berlangsung dengan keyakinan bisa sampai kapan mereka, Arab Saudi, bisa bertahan. Pasar tak bisa dilawan. Keyakinan kami menjadi kenyataan. Visa Arab Saudi menumpuk karena minimnya pelamar.

Calon TKW lebih memilih penempatan di negara Arab lainnya yang tidak menurunkan fee.

Akhirnya pihak Sanarcom menyerah. Saat ini biaya perekrutan Arab Saudi semakin tak terkendali. Lebih dari dua kali lipat dari biaya yang dipatok Sanarcom. Dan alokasi terbesar adalah untuk fee sponsor dan TKW.

Tuduhan umum lainnya, adalah calon TKW mau berangkat karena ‘janji manis’ PJTKI.

Orang kita cenderung malas melakukan analisa. Karenanya ketika ada suatu masalah alasan usang yang dilemparkan untuk menyalahkan pihak siapa saja yang dianggap bertanggung jawab.

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya ulang bila berbicara dengan calon TKW adalah mengapa mereka mau bekerja di Arab Saudi sementara berita di TV tentang nasib TKW di sana buruk semua.

Jawaban mereka macam-macam.

Kekhawatiran ada. Tapi kalau menunggu di rumah, anak bisa putus sekolah. “Lagian tetangga saya yang berangkat pada berhasil semua, bisa bangun rumah. Gak ada yang kayak di TV.” kata mereka.

Lain waktu ada yang menjawab,”Emang jadi pembantu di Indonesia enak? Majikan cerewet dimana-mana gak di Saudi gak di Jakarta. Di Arab Saudi mending, majikan cerewet, duitnya kelihatan.”

Kecuali TKW bermasalah dan ingin mendapatkan ‘kompensasi’ dari PJTKI (karena klaim asuransi minim atau tak digubris), tuduhan bekerja ke luar negeri karena janji manis PJTKI baru terdengar. Bagi TKW gagal, PJTKI itu sama dengan keburukan. Anehnya, saya pernah menemukan TKW yang pernah memperkarakan PJTKI yang memberangkatkannya dan menuduh PJTKI tersebut ‘berjanji manis’ tapi kemudian mendaftar lagi ke PJTKI yang sama!

Bagaimana kami bisa bersaing merekrut TKI informal dengan mengandalkan ‘janji manis’ sementara di TV (yang adalah sumber terbesar yang paling banyak ditonton calon TKW) tak ada cerita positif soal PJTKI dan majikan Arab mereka? Sinetron yang fiksi pun menggambarkan betapa menderitanya Titi Kamal oleh majikan yang cerewet.

Bagaimana ‘janji manis’ PJTKI bisa bersaing dengan TV?

Janji, yang legit sekalipun, sudah lama tidak laku di negara kita (Makanya caleg yang cuma punya janji tapi tak punya uang takkan terpilih).

Yang dilakukan PJTKI hanya satu: kembali menekan pihak negara penempatan agar meninggikan fee sebab uang yang kami serahkan ke tangan calon TKW lebih nyata dari berita horor yang disiarkan TV.

Seserderhana itu.

Selain tetangga mereka yang pulang bekerja dari luar negeri dalam keadaan badan utuh tidak kurang suatu apapun alias sehat waalfiat dengan membawa uang untuk membangun rumah, juga sangat menentukan. Dan pemandangan semacam itulah yang mereka lihat di kampung.

Jadi faktor agama dan janji manis PJTKI bukan penentu mengapa mereka bersedia bekerja di Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya.
Seperti biasa, ini adalah soal yang dimengerti (bahkan oleh manusia ber IQ 80 dan anak tetangga saya yang berusia dua tahun): UANG.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

5 Balasan ke Mengapa mereka memilih Arab Saudi & ‘janji manis’ PJTKI

  1. yuyun berkata:

    hmmm jangan salah yaa sponsor2 tsb banyak yg tak memberikan fee tsb ke pihak TKW krn kebanyakan tkw dibawa sponsor

    • Humari berkata:

      Jangan salah juga ya…..TKW tidak pasrah bila tak diberi fee. Mereka gampang kabur entah saat pasporan, atau bahkan saat menjelang terbang di bandara. Dan jangan salah lagi ya hanya sponsor yang angin2an yang tidak memberi fee ke TKW. Sponsor pengalaman takkan melakukan itu. Sebab sekali mereka melakukan kecurangan, tak ada yang mau berangkat lewat mereka.

  2. Malaysia berkata:

    Klaim Malaysia hanya dampak sertaan dari sejarah kita sebagai bangsa nusantara yang dibelah-belah dan diadudomba oleh kolonialis Eropa. Kasihanilah tetangga kita itu, mereka sekarang sedang dalam fase yang sangat berat dalam upaya menemukan kembali sejarahnya yang banyak dipalsukan🙂

  3. Sugeng K berkata:

    seperti yg telah diulas di atas: mereka memilh arab saudi,:karena
    1.tidak harus berpendidikan.(minim sd bisa),
    2.Orang2 desa kebanyakan yg berangkat.
    3.Sebagian ingin mencari rejeki dg harapan bisa melaksanakan ibadah umroh / haji.

    Bila saat ini TKW tidak ada pengiriman lagi ke Arab Saudi, itu sangat baik sekali.
    Karena TKW yg sudah ilegal(sebagian)/para umroh(sebagian) sangat merusak martabat Indonesia. Mereka pada berpasangan pasangan dg bangsa lain,bahkan sampai pada menggendong momongan. Bila ada yg mengatakan diperkosa,itu sangat kecil kejadian persentasenya.Sebagian besar karena mereka kelihatan bangga memiliki momongan dg bangsa lain/maupun dg bangsa sendiri. Bisa dikatakan bahwa perempuan Indonesia sangat amburadul.
    Saya berharap,semoga TKW tidak akan dikirim lagi ke Saudi Arabia.
    Untuk Umroh semestinya dilakukan peraturan all: 1 laki laki hanya bisa diikuti 1 muhrim. (perempuan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s