Tim (lagi-lagi) terpadu Presiden dan pesan mendiang Ong Hok Ham

Beberapa media cetak tanggal 12 April tempo hari ramai menulis tentang keinginan Presiden membentuk tim terpadu untuk menginvestigasi agen pengiriman tenaga kerja Indonesia dan pemerintah negara lain yang memperkerjakan TKI. Jika memang TKI diperlakukan tidak layak di negara tujuan, Pemerintah akan mengambil kebijakan moratorium.

Latar belakang ucapan Presiden itu adalah berdasarkan laporan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) soal ruwetnya permasalahan TKI informal di luar negeri. Temuan BPK tersebut tentu saja setelah mereka mengaudit lembaga negara yang berwenang mengurus TKI; Kemenakertrans dan BNP2TKI. Anehnya Presiden malah mengeluarkan pernyataan di atas.

Apa perlunya Presiden membentuk tim terpadu? Lha wong BNP2TKI, badan yang juga dibentuk Presiden itu, sudah terdiri dari berbagai unsur lembaga pemerintahan. Mulai dari Kepolisian, Kemensos, Kemendiknas, Kemanakertrans, dsb dsb tumplek blek di situ.

Kurang apa lagi? BNP2TKI sudah ada sejak lima tahun yang lalu. Apa hasil kerja mereka selama ini? Masa Presiden tidak punya cacatan tentang lembaga yang dibikinnya sendiri?

Temuan BPK itu jelas-jelas bersumber dari kinerja Kemenakertrans dan BNP2TKI,  namun mengapa investigasi dilakukan ditingkat yang jauh lebih bawah? Seperti dokter bebal yang mengoperasi kaki padahal yang bermasalah adalah otak si pasien.

Ada baiknya kita mengingat tulisan sejarawan mendiang Ong Hok Ham (kalau tak salah dalam bukunya yang berjudul ‘Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong’) yang berbunyi kira-kira seperti ini: lembaga preman, mafia, jagoan tidak dapat berkembang tanpa adanya hubungan dengan lembaga kekuasaan resmi.

Maksud saya, PJTKI nakal, PJTKI ilegal, PJTKI bebal, PJTKI abal-abal tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan siapa saja yang berwenang di (baiknya saya tulis dengan huruf kapital) LEMBAGA KEKUASAAN RESMI.

Lembaga-lembaga apakah itu? Ya lembaga apa saja yang selama ini berkaitan dengan PJTKI dan TKI!

Sesederhana itu?

Ya.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke Tim (lagi-lagi) terpadu Presiden dan pesan mendiang Ong Hok Ham

  1. MONICA berkata:

    Mantabz ni juga ni web blog….monon ijin untuk di tautkan dgn web sejenis yang laen…

  2. Sipayung berkata:

    Presiden baru harus mengetahui dan melihat ke dalam lembaga tersebut. Saya tidak mengikuti kelanjutan kejadian KPK menangkap oknum di terminal bandara 3 Suta beberapa waktu lalu.
    Lembaga-lembaga tersebut harus diaudit.

    Semoga pandangan kritis Anda berlanjut pak.

    • Humari berkata:

      Terminal 4 TKI itu sudah tak ada ‘tuan rumahnya’. Sebagian besar TKI tak lewat Terminal itu. Selain yang kemarin tertangkap memeras tak satupun orang di struktural pada instansi yang berwenang soal TKI misalnya BNP2TKI dan Kemenakertrans. Bahkan ada yang cuma taksi gelap. Makanya ‘penggerebekan’ itu bagi kami hanya janggal. Sasarannya jauh panggang dari api. Anda tahu, beberapa tahun yang lalu saya pernah mengirim email pengaduan ke KPK soal penyimpangan dan pemerasan dalam proses penempatan TKI ke KPK, jawaban mereka kira-kira begini: “Yang kami urus adalah bila ada transaksi tak wajar yang merugikan negara.” Dan uang TKI karena bukan dari negara ya gak perlu diurus. TKI mungkin bukan bagian dari negara bagi mereka.

      Dan tahukah Anda saat BNP2TKI lagi jaya-jayanya di bawah Jumhur, KPK memberi penghargaan ke BNP2TKI. Googling aja. Beritanya masih ada🙂

      Saya sudah lama tidak percaya KPK.

  3. Nani marlina berkata:

    Saya ingin cari pekerjan rumah tangga yang mendapatkan gajih besar.tapi saya tidak mau melalui yayasan karna terlalu besar keuntungan yayasan sedangkan kita bekerja keras mencari uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s