MOU dengan Arab Saudi, emang penting?

Beberapa tahun yang lalu, si suatu artikel koran, saya membaca tulisan yang isinya kira-kira begini:

Pada saat Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet bersaing memperebutkan ‘hegemoni’ di luar angkasa, AS mengadakan riset guna menemukan pulpen ballpoint yang dapat digunakan di ruang tanpa gravitasi. Karena pulpen yang ada selama ini hanya dapat berfungsi di atas muka bumi. Bukan sembarang riset, konon menurut tulisan tersebut AS menghabiskan 20 juta dolar!

Yang tak mereka duga, Uni Soviet tak pernah mengadakan riset segila itu. Kosmonot mereka cukup menggunakan alat tulis sederhana, yang digunakan semua orang di awal-awal belajar mengenal huruf: pensil!

Saya tidak tahu apakah info itu sekedar lelucon atau tidak. Tapi relevansinya anda dapat membacanya dari tulisan saya mengenai MOU berikut.

Yang saya maksudkan adalah MOU antara Indonesia dan Arab Saudi mengenai penempatan dan perlindungan TKI.

Ada satu celah yang selama ini yang diabaikan Indonesia dalam perkara di atas: memaksimalkan fungsi KBRI Riyadh atau KJRI Jeddah.

Perlu anda ketahui, bahwa semua TKW untuk penempatan Arab Saudi boleh dikatakan tak bisa tidak harus melalui perwakilan pemerintah tersebut. Dari situlah semua persyaratan perekrutan dan penempatan TKW disahkan. Tanpa legalisasi salah satu diantaranya, penempatan TKW di Arab Saudi tak bisa dilaksanakan. Selama ini sudah berjalan begitu baik. Rata-rata PJTKI mematuhi itu.

Sayangnya, KBRI dan KJRI seolah tak tahu betapa berkuasanya mereka.

Sebagai salah satu contoh, KBRI sebenarnya bisa menambah persyaratan apa saja pada majikan Arab yang ingin memperkerjakan TKW. Misalnya mewajibkan, semua majikan harus punya simpanan dana di bank Arab Saudi, yang punya korespondensi dengan bank Indonesia tentunya, khusus TKW selama dua tahun masa kontrak. Dana itu otomatis terpotong tiap bulan dan langsung masuk ke rekening TKW.

Bila itu dilaksanakan, satu masalah yang terbanyak yang menimpa TKW selama ini; gaji tak dibayar, selesai!

Tentu dampaknya permintaan TKW akan menurun. Tapi yang jelas, hanya majikan yang mampu yang dapat memperkerjakan TKW kita. Lain tidak.

Sekedar info tambahan, hal-hal semacam itulah yang dilakukan Kedutaan Besar Arab Saudi terhadap PJTKI (resminya PPTKIS), klinik laboratorium, tour and travel Indonesia bila mereka punya aturan baru yang menguntungkan mereka. Asosiasi agen tenaga kerja Arab Saudi (baca; bukan pemerintah Arab Saudi) misalnya cukup bilang pada Kedutaan Besar mereka untuk memberlakukan aturan ini itu. PJTKI tak bisa apa-apa selain mematuhinya. Kedutaan Arab Saudi di sini memang tak punya wewenang untuk mencabut izin PJTKI. Tapi PJTKI tak bisa memberangkatkan TKI tanpa proses dokumen di Kedutaan.

Kedutaan Filipina juga biasa melakukan itu. Sampai-sampai saking ketatnya aturan yang ada, calon-calon majikan rela antri mulai pagi buta di depan gerbang Kedubes Filipina di Riyadh.

Itulah yang saya maksud dengan relevansinya dengan kisah riset mahal Amerika dengan MOU penempatan dan perlindungan TKW di Arab Saudi yang banyak didengungkan oleh semua pihak.

Sebab pada dasarnya sudah tersedia cara yang lebih praktis dan tidak bertele-tele.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s