Untuk Anda yang sudah akil baligh pada zaman Orba

Berita:

“Pak Jumhur adalah Kepala BNP2TKI yang suka mengirim sms kepada Presiden terkait persoalan penanganan TKI serta langkah-langkah yang telah dilakukan BN2TKI” kata Presiden SBY, tersenyum. ( Jurnal Nasional tanggal 16 Desember 2010)

Tanggapan saya:

Kalaulah betul wartawan koran Jurnal Nasional mengutip ucapan dan mendeskripsikan mimik Presiden, wow………Presiden kita itu baik sekali.

Bahkan pada anak buahnya yang gagal menyelenggarakan pengawasan terhadap PPTKIS (baca: PJTKI) dan perlindungan TKI saja masih bisa menghadiahi senyuman. Senyuman yang hanya berhulu dari sms. Padahal semua tahu apalah arti sms dibanding karya nyata.

Saya pun mengingatkan diri sendiri untuk menghela nafas setelah membaca berita surat kabar Jurnas di atas.

Inilah yang membuat saya menilai ketua BNP2TKI tak pantas diberi senyuman Presiden:

  1. Dia gagal berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dalam penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI. Seperti kekuasaan kategori lainnya di alam demokrasi, kekuasaan BNP2TKI itu terbatas. Karenanya untuk melaksanakan peran dengan baik koordinasi adalah penting. Jumhur Hidayat tak punya kemampuan itu.

Mau bukti?

Setahun lebih (antara Februari 2009 akhir hingga pertengahan Oktober 2010), BNP2TKI berselisih dengan Menakertrans (waktu itu masih dijabat Erman Suparno). Perselisihan berlangsung terbuka. Serang menyerang di media massa adalah lumrah. Semua PJTKI dibuat bingung. Akhirnya sebagian besar memihak pada Menakertrans lantaran dialah pemegang kuasa untuk mengeluarkan izin operasional PJTKI.

Apakah ketua BNP2TKI tak merasa bersalah karena itu? Sekarang ketika perlindungan TKW semrawut dengan enteng  dia hanya melemparkan kesalahan pada PJTKI?

Bukti lainnya…..sejak wewenang dikembalikan Menakertrans Muhaimin Iskandar pada BNP2TKI, tak sekalipun ketua BNP2TKI mengundang pimpinan PJTKI untuk berdialog lansung, duduk bersama memecahkan masalah. Semua disampaikan dalam bentuk kecaman dan ancaman lewat media. Seperti orang tua yang marah sama anak lewat mulut tetangga.

Oh ya, ada sekali ketua BNP2TKI bertatap muka dengan sebagian pimpinan PJTKI pada sebuah acara penggalangan dana untuk anak-anak terlantar dari TKW yang hamil diluar nikah (akibat diperkosa maupun berzina). Acara yang diselenggarakan yayasan Puri Cikeas. Tak ada pembicaraan serius di acara itu selain sambutan basa-basi, penggalangan dana (yang satu dua momen didalamnya menjadi ajang mempermalukan segelintir pimpinan PJTKI), makan-makan dan tralala-tralili.

Anda bisa nilai sendiri mentalitas macam apa yang dimiliki pejabat negara yang hadir dan bertemu orang-orang yang tak disukainya (baca; pimpinan PJTKI) hanya karena pemrakarsa acara tersebut adalah istri Presiden. Kalau anda sudah akil baligh pada zaman Orba ingat saja Harmoko.

Bukti di atas masih kurang? Suatu kali Deplu mengeluarkan surat teguran karena ketua BNP2TKI mengadakan pembicaran langsung dengan pihak luar negeri tanpa sepengetahuan Menlu!

Dan mungkin masih banyak bukti lainnya yang mungkin kita belum tahu.

  1. Bahkan dalam menangani Terminal Khusus TKI saja, BNP2TKI masih terseok-seok. Tanya saya pada TKW bagaimana buruknya pelayanan yang diselenggarakan di situ. KPK saja memberi nilai merah. Kalau gagal membenahi tempat yang hanya berlokasi tak lebih dari 3-4 luas lapangan futsal bagaimana Jumhur Hidayat masih sanggup menerima beban mengawasi PJTKI, BLK LN, juga perlindungan TKI di luar negeri?
  1. Boleh percaya boleh tidak, tak sekalipun staf BNP2TKI mengunjungi kantor PJTKI, asrama TKI, BLK LN kecuali bila ada TKI terkena masalah di luar negeri. Ya, itupun karena berkat Anda para wartawan yang langsung menyorot habis-habisan.

Ah….Pak Presiden, lain kali kalau memberi senyuman pada bawahan tolonglah selektif. Tak semua mereka pantas mendapatkan itu. Apalagi hanya karena rajin sms.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Untuk Anda yang sudah akil baligh pada zaman Orba

  1. Simpatisan TKW berkata:

    Kita memang memiliki segalanya… termasuk pemimpin2 yg ternyata hanya berpikir prestige (non prestasi), karir dan masa depan (baca:masa tua). Sayangnya tidak memikirkan akhirat….
    Kata Band Wali: Ingat mati pakk…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s