Apa untungnya menyekap TKW……?

Ah….postingan semacam ini sudah menperlambat saya membaca Haruki Murakami (baca ulang yang ketiga sebenarnya, tapi masih saja saya rela masuk dalam imajinasi dia yang kemana-mana).

Tapi sekali lagi posting ini tetap penting lantaran hampir tak ada orang PJTKI yang berbicara (atau versi yang lebih jujur: menulis)

Saya berusaha menaggapi berita tentang TKI & PJTKI sesuai ‘trend’. Kali ini yang menjadi sorotan adalah TKW kabur dari asrama.

Berita :

Korban sekitar 2 bulan 15 hari tidak diurus, lalu loncat dari tembok BLK pada penampungan.” Kasatserse Polres Jaktim, Kompol Dodi Rahmawan (Kompas.com, 14 Desember 2010)

Tanggapan :

Bagi TKW, PJTKI yang baik adalah PJTKI yang dapat memproses penempatan mereka dengan cepat. Makanya ketika saat didatangi sponsor dan petugas lapangan (anak buah sponsor), seorang TKW selain menanyakan berapa besar uang ‘jajan’ atau fee yang mereka terima, mereka juga meminta kepastian bahwa PJTKI yang akan dituju oleh sponsor adalah PJTKI yang dapat secepatnya memberangkatkan mereka. Dan itu berarti proses dokumen tak boleh bertele-tele dan kalau perlu tanpa pelatihan.

Tak ada TKW yang menyukai pelatihan.

TKW kabur dari asrama bukan cerita baru. Semua PJTKI mengalaminya. PJTKI yang masuk berita tempo hari lagi apes saja.

Semua asrama PJTKI menerapkan aturan keluar masuk yang ketat. Alasannya banyak. Tapi secara garis besar di bawah ini:

  1. PJTKI sudah mengeluarkan uang untuk merekrut. Rata-rata sebesar 3-5 juta per TKI. Minimal 1,5 hingga 3 juta uang tersebut secara tunai diterima TKI. Selebihnya buat pengurusan dokumen (yang tak satupun bebas dari uang pelicin. Prinsipnya semua oknum pegawai terkait dapat bagian), membayar oknum polisi di jalan, uang transport dan fee buat sponsor dan petugas lapangan mereka. Kalau TKW kabur, PJTKI yang menanggung semua. Dan memang ada CTKW yang mencari nafkah dengan cara ini. Setelah menerima fee, kabur dari asrama, lalu mendaftar ke PJTKI lain. Dan kabur lagi.
  2. Dokumen TKW yang belum lengkap sementara TKW sudah menerima uang jajan.
  3. PJTKI akan diminta pertanggungjawaban oleh keluarga TKW, bila anggota keluarga mereka yang menjadi TKW kabur. Kabur jenis ini terjadi biasanya terjadi bila sang TKW merasa cintanya terkekang. Akhirnya cara Cinderella pun mereka tempuh (bedanya tak ada kereta kencana selain angkot atau ojek yang mereka tumpangi dan pangeran mereka yang menanti juga biasanya bukan dari istana manapun selain pedagang keliling, pekerja bangunan dan sebagainya yang biasa melintas dan ngetem di dekat pagar asrama TKI)
  4. Asrama yang ketat juga untuk menghindari orang luar keluar masuk seenaknya. Dan biasanya kepala asrama adalah pasangan suami istri yang ‘track recordnya’ sudah diketahui oleh pimpinan PJTKI.

PJTKI juga tidak suka melakukan ‘penyekapan’ (kalau anda merasa penampungan dan pelatihan istilah yang terlalu halus buat ‘mafia’ seperti kami’) berlama-lama. Buat apa? Tagihan makan minum, tagihan listrik dan air akan membengkak dan tak ada keuntungan lagi yang tersisa. Belum lagi nama jelek di depan sponsor dan TKW.

TKW terpaksa menunggu lama di asrama karena banyak faktor. Biasanya ini yang terjadi:

  1. TKW tidak kunjung mendapat majikan.
  2. Penerbangan sedang berada dalam musim puncak. Entah haji atau musim liburan. Biasanya pihak maskapai penerbangan lebih mendahulukan penerbangan penumpang jenis lain dari pada pekerja.
  3. TKW yang menarik diri dari penempatan suatu negara dan minta pindah ke negara lain. (Misalnya semula menginginkan Hongkong lalu setelah di asrama minta pindah ke Taiwan)
  4. Paspor TKW tak kunjung keluar karena ‘biomatrix’. Ini terjadi bila TKW pernah bekerja di luar negeri lalu pulang sementara masa berlaku paspor belum habis.

Saya sendiri lebih menyarankan pemerintah mengambil alih peran yang selama ini ditimpakan kepada PJTKI; proses dokumen dan pelatihan. Ini agar TKW tidak berlama-lama di penampungan. TKW dapat dilatih di BLK-BLK di kota kabupaten. Kalau perlu bikin BLK di tingkat kecamatan. Proses pembuatan paspor lebih baik dilakukan di daerah. Toh proses di imigrasi sudah ‘online’.

Selain itu sistem perekrutan juga diambil alih dari tangan sponsor dan petugas lapangan mereka. Pegawai Disosnaketrans yang langsung terjun ke pelosok-pelosok untuk menemui calon TKI dan menjelaskan semua. Selama ini info yang diberikan oleh sponsor dan petugas lapangan kerap ngelantur.

Biayanya?

Minta ke PJTKI. Toh selama ini PJTKI biasa menebar uang ke segala arah. Semua terciprat bahkan wartawan dan LSM. Lebih baik dibuat aturan yang transparan untuk itu.

Sulit? Emang.

Yang paling gampang adalah menimpakan semua ke PJTKI; perekrutan, pelatihan, pengurusan dokumen dan paspor, pemasaran, penempatan, perlindungan dan juga tudingan.

Tanya saja pada Jumhur Hidayat dan Muhaimin Iskandar.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s